Salah satu hal penting yang saya pelajari dari sebuah pernikahan adalah kenyataan bahwa membuat anak itu tidak semudah memasak makanan. Bahan ini-itu dicampur lalu jadilah rendang, misalnya. Proses pembuahan oleh suami-istri itu ternyata tidak selalu berhasil mengikuti standard operating procedure di mana sperma adalah perenang handal yang pasti sukses menyelami tuba falopi hingga mencapai ovum yang telah cukup matang, lalu terjadi pembuahan dan voila! Sembilan bulanan kemudian brojol.
Sesungguhnya, banyak sekali faktor-faktor dalam sistem tubuh wanita dan pria yang mendukung suksesnya kehamilan. Dan faktor utamanya memang tidak dapat dipungkiri, faktor tangan Tuhan. Ada pasangan yang langsung berhasil hamil dalam sekali percobaan, tapi tak sedikit pula yang harus melakukan berbagai persiapan dahulu, termasuk pengobatan, yang terkadang memakan waktu, sebelum berhasil. Kita sebagai manusia pastinya tidak pernah memilih jalan yang sulit, namun jika Allah berkehendak, kita hanya bisa yakin bahwa selalu ada hikmah di balik kehendak yang Allah tetapkan untuk kita.
Saya perhatikan, banyak pasangan-pasangan yang ingin memulai program anak namun masih clueless dengan tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Dan saya jadi kebelet pengen sharing berdasarkan pengalaman saya sendiri serta dari berbagai sumber yang saya baca, karena saya pun dulu banyak terbantu oleh tulisan para pejuang momongan di berbagai blog dan forum. Anggap saja ini balas budi saya terhadap para ibu-ibu tersebut ya :)
Saya jelas bukan dokter atau tenaga kesehatan, jadi apa yang saya tulis di bawah ini benar-benar berdasarkan pengalaman sendiri saja ya.
Bismillah
Untuk memulai program hamil, nomor satu tentunya adalah dengan pergi ke dokter kandungan yang terpercaya. Kalau bisa sih yang memang spesialis di bidang infertility (ada tambahan title Kfer di belakang SPOG-nya) atau dokter kandungan yang sudah memiliki reputasi baik di bidang infertility meski belum spesialis . To be honest, kebanyakan SPOG yang terkenal adalah pria. Dan terkenal buat saya berarti mereka memiliki lebih banyak pengalaman dalam berbagai kasus infertilitas, yang adalah faktor penting dalam memilih dokter. Tapi itu semua tergantung kenyamanan masing-masing pastinya karena yes, dalam berbagai pemeriksaan ini memang ada saatnya kita harus "buka-bukaan" secara harafiah. Dan pastinya cari yang punya reputasi sebagai dokter yang ramah dan komunikatif, ini pentiiingg sekali. Mengapa? Karena proses ini sesungguhnya cukup melelahkan secara fisik dan mental. Kita butuh banget dokter yang bisa ber-empati dengan kondisi kita, yang dapat menyemangati kita dengan aura positif mereka. Bukan yang malah menjatuhkan mental.
Setelah itu ada berbagai tes/tindakan yang dapat dijalani oleh suami istri :
1. USG Transvaginal - istri
Yes, ini USG yang dilakukan dengan memasukan alat (si 'kamera' USG) ke dalam vagina. Hasilnya jelas lebih terang daripada USG abdomen. USG ini dilakukan sebagai langkah pertama untuk melihat kondisi rahim dan ovarium kita. Paling baik dilakukan ketika kita dalam kondisi menstruasi (yup, saat MENSTRUASI), biasanya di hari ke-2 siklus. Lalu dicek lagi di sekitar hari ke-11 siklus (sekitar masa subur) untuk memantau kondisi ketebalan dinding rahim dan perkembangan sel telur.
Risih? Sudah pasti!
Apalagi kalau dokternya laki-laki. Tapi lama-lama kalau udah terbiasa sih jadi cuek aja. Mikirnya kan buat medical purpose juga. Lebih baik sih suami juga nemenin ya tiap ada tindakan yang satu ini.
2. Tes darah - istri
Cukup banyak tes darah yang perlu dilakukan. Pertama, jelas tes darah untuk segala hormon yang terkait sistem reproduksi kita, di antaranya FSH, LH, TSH, estradiol, prolaktin, progesteron. Berhubung aktivitas reproduksi kita memang tergantung banget dengan hormon-hormon di atas, jadi sekalinya ada yang melenceng, bisa langsung mempengaruhi kondisi tubuh kita. Misalnya menstruasi yang menjadi tidak teratur.
Kemudian tes TORCH untuk mengetahui apakah kita sedang terinfeksi virus Tokso, Rubella, CMV, atau HSV. Ini juga penting karena termasuk faktor penghambat kehamilan, plus kalau hamil dengan kondisi terinfeksi, kans keguguran menjadi lebih besar atau janin dapat mengalami kecacatan. Yang di-tes adalah igg dan igm-nya, di mana kalau hanya igg yang positif itu artinya kita pernah terinfeksi di masa lalu namun saat ini kondisi virusnya sedang dormant. Sedangkan jika igm positif artinya saat ini kita sedang terinfeksi. Dulu saya semua igg-nya positif kecuali tokso, igm semua negatif. Ga masalah dan ga perlu minum obat tertentu.
Selain itu, yang perlu dites adalah kekentalan darah kita karena faktor darah kental tersebut dapat menghambat asupan nutrisi untuk janin yang bisa menyebabkan keguguran. Kalau ngga salah nama test-nya ACA, tapi saya waktu itu test untuk D-Dimer juga.
Tes darah lain yang saya lakukan adalah tes untuk hormon insulin dan gula darah, karena dari hasil USG, saya terindikasi PCOS (polycystic ovarian syndrom).
3. HSG (histerosalpingografi)
Ini adalah tahapan untuk mengetahui apakah tuba falopi (saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim) kita tersumbat atau tidak. Ini penting sekali karena inilah saluran di mana sperma berenang menuju sel telur dan juga saluran di mana sel telur yang berhasil dibuahi menggelinding menuju rahim. Artinya jika ada sumbatan/perlekatan pada tuba, akan sulit terjadi pembuahan secara normal.
Tindakan dilakukan dengan dokter radiologi. Prosedurnya, pertama kita akan diminta berbaring di semacam meja roentgen, kemudian dokter akan memasukan selang ke dalam vagina kita. Setelah siap, dokter akan menyemprotkan semacam cairan kontras melalui selang tersebut, dan pada saat yang bersamaan, asisten di lab akan "memotret" melalui meja roentgen tersebut. Paham kan? Sama seperti roentgen paru-paru tetapi ini yang di roentgen bagian rahim dan sekitarnya. Cairan kontras itu sendiri fungsinya untuk mengetahui apakah ada saluran yang tersumbat. Jadi kalau tidak ada sumbatan, pada hasil roentgen akan tampak bahwa cairan berhasil melewati tuba fallopi.
Jujur, buat saya rasanya tindakan ini menyakitkan. Tapi tidak semua orang merasa sakit loh, ada juga yang sekedar merasa sakit seperti menstruasi. Kalo saya? Sampai muntah-muntah!
4. Tes sperma - suami
Tes ini dilakukan untuk mengetahui jumlah sperma serta motilitas (pergerakan) sperma. Intinya untuk mengetahui apakah kuantitas dan kualitas sperma cukup prima untuk memungkinkan terjadinya pembuahan.
Setelah tahapan pemeriksaan tersebut selesai, baru diputuskan treatment apa yang sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut. Misalnya jika hormon ada yang tidak seimbang, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk menormalkannya. Atau jika tuba falopi tersumbat, mungkin dibutuhkan operasi laparoskopi atau malah langsung lompat ke proses bayi tabung.
Jenis pemeriksaan dan treatment yang dilakukan tentu saja dapat berbeda-beda tergantung kebijakan dokter. Saran saya, kita harus jadi pasien yang pintar. Jangan hanya nurut dan 'iya-iya' aja apa kata dokter, tapi kita juga harus membekali diri kita dengan berbagai bacaan terkait infertilitas dan aktif bertanya pada dokter jika ada hal yang kita tidak ketahui.
Untuk masalah biaya (saya tahu ini penting sekali), sayangnya saya tidak punya informasi untuk segala tagihan untuk program ini karena seluruhnya ditanggung oleh kantor. Saya jadi tidak terlalu memperhatikan tagihan-nya (malah rasanya kadang saya tidak menerima tagihan setelah pemeriksaan atau treatment). Tapi sekedar mengira-ngira, kurang lebih untuk pemeriksaannya saja mungkin lebih dari lima juta rupiah. Yang saya ingat test TORCH sendiri sudah sekitar dua juta. Tes hormon juga kalau tidak salah cukup mahal. Belum biaya bolak-balik ke dokter, termasuk pemeriksaan USG yang bisa mencapai tiga ratus sampai lima ratus ribu per kedatangan. Memang cukup mahal ya, tapi insya Allah semoga rezeki kita selalu dimudahkan.
Terakhir, saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Guru ngaji saya pernah berkata bahwa misalnya jika ada satu pasangan yang sudah rajin berdoa dan berikhtiar namun belum dikaruniai anak oleh Allah, bukan berarti Allah sedang memberikan cobaan pada pasangan tersebut. Bisa saja Allah menunda mengabulkan justru karena Allah senang mendengarkan doa-doa yang dilantunkan pasangan tersebut kepada-Nya.
Dan sekali lagi, Allah pasti akan memberikan karunia-Nya di saat yang paling baik menurut-Nya. Itu hal yang benar-benar saya rasakan ketika saya positif hamil setelah dua tahun lebih menikah. Selalu ada hikmah di balik setiap cerita.
Dan hal penting lainnya, JANGAN PEDULIKAN APA KATA ORANG LAIN. Kalau kata suami saya, kita tidak pernah bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan tapi kita BISA mengendalikan cara kita bereaksi menerimanya. Stay positive!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar