Selain berburu tiket dan tentu saja jalan-jalannya, salah satu hal yang paling saya sukai dari traveling adalah : berburu penginapan! Saya benar-benar menikmati moment di mana saya harus mengubek-ubek review penginapan di situs seperti booking.com, agoda, dan tripadvisor, lalu membuat perbandingan fasilitas, lokasi dan harga, serta pelayanan. Bisa bikin galau berminggu-minggu, tapi menyenangkan!
Waktu masih sexy, free, and single sih saya ga masalah nyari hostel tipe dormitory yang sekamar beramai-ramai itu (tapi tetep sih meski 'hanya' hostel, saya tetap akan melakukan check and recheck yang mendalam sebelum memutuskan).
Tapi, karena setelah menikah travelingnya selalu berdua dengan suami, saya sekarang lebih memperhatikan faktor-faktor berikut:
- Privasi. Iya dong, kalo sekamarnya rame-rame di mixed dormitory kan jadi ngga bisa pacaran sama suami. Jadi harus banget cari private room.
- Kamar mandi di dalam. Ini untuk faktor kenyamanan saya sih, secara saya berjilbab dan rasanya malas kalau dikit-dikit mau ke kamar mandi harus pake baju panjang dan jilbab dulu. Apalagi kalau shared bathroom-nya ngga dipisah untuk cewek dan cowok. BIG NO.
- Lokasi. Wajib cari yang dekat dengan fasilitas transportasi umum. Ga harus yang tinggal guling nyampe sih.. ga masalah kalau harus jalan kaki dikit, sekalian olahraga juga toh.
- Bersih dan rapih. Ini biasanya ngintip di tripadvisor karena reviewer-nya kadang meng-upload foto kamar aslinya. Kalau lihat di situs booking hotel sih biasanya gambarnya udah diedit sedemikian rupa biar keren.
- Harga. Anyway, meski banyak mau, saya bukan maniak hotel berbintang kok (mahal bookk). Saya akan mencari penginapan dengan harga yang sesuai budget dan tetap memenuhi faktor-faktor di atas. Misalnya di Jepang, budget saya satu juta per malam untuk satu kamar berdua. Ngga beda jauh sebenarnya dari menginap di hostel yang strategis, karena per tempat tidur (per kepala) biasa dihargai sekitar 300-500rb per malam. Kalau di tempat yang rata-rata lebih murah harga hotelnya, ya dikurangin juga budgetnya.
Waktu saya ke Tokyo tahun lalu, saya memutuskan untuk menginap di wilayah Sumida yang berada di sekitar spot wisata Asakusa. Dari research, kawasan Asakusa ini cukup strategis sih kalau mau kemana-mana, selain itu rata-rata tarif hotelnya juga relatif lebih murah dibanding wilayah lain seperti Shibuya. Anyway, hotel yang saya inapi bernama MyStays Asakusa, sebuah business hotel chain yang memiliki cabang di mana-mana.
Saya book via booking.com dengan harga kurang lebih per malamnya Rp 700,000 (November 2014) untuk kamar standar. Di situs disebutnya cuma 5 menit jalan kaki dari stasiun subway Kuramae, kalau kenyataannya sih 15 menit jalan kaki santai. Tapi berhubung udaranya dingin sejuk, plus untuk ke sananya kita harus menyebrangi Sumida river yang tenang dan super bersih dengan pemandangan Tokyo Sky Tree di kejauhan, 15 menit juga terasa cepat saja. Agak repotnya sih emang kalo pas bawa-bawa koper, lumayan rempong naik turun tangga stasiun-nya.
ini penampakan hotelnya, sumber : booking.com
Penginapan di Jepang rata-rata memiliki jam check-in start di jam 3 sore dan check-out di pukul 10 pagi. Kalau tiba lebih awal seperti kami, kita boleh-boleh saja titip tas dulu di resepsionis lalu cabut buat jalan-jalan. Resepsionisnya cukup bisa berbahasa Inggris, plus kita bisa minta tourism map Asakusa juga ke mereka.
Seperti banyak cerita mengenai kamar hotel di Jepang, yupss.. kamarnya mungiilll sekali :) Setelah meletakan dua koper, rasanya sudah nyaris tidak ada space lagi.
sumber : booking.com
Noh kan, kecil banget kamar dan double bed-nya. Untuk saya dan suami sih sebenarnya nyaman-nyaman aja, secara body kita juga mungil (oh yeah), tapi ga kebayang kalo ada pasangan bule yang nginep di mari :))
Biar demikian, seluruh persyaratan saya sudah terpenuhi oleh hotel ini, malah sesungguhnya lebih dari yang diharapkan. Selain AC/pemanas dan TV, di kamar mungil ini disediakan ketel air listrik, microwave, kulkas kecil, semacam kompor pemanas, hair dryer bahkan jubah tidur dan selop! Yang lebih asik lagi, meski kamar mandinya mungil dan berpenampilan jadul, tetep ada bathtub-nya dong (plus toilet penuh tombol a la Jepang tentunya). Bukan bathtub yang kita bisa sampe selonjoran sih.. maksimal kita cuma bisa duduk aja di bathtub ini hahaha. Tapi karena bathtubnya dalam, jadi kalo diisi air sih bisa tenggelem sampe sekitar leher. Dari pengalaman saya, berendam air panas sebelum tidur malem itu okeee banget setelah seharian jalan berkilo-kilo. Besok paginya segerr, ga pegel-pegel.
sumber : foto pribadi
Oh ya, toiletries seperti sabun, shampo dan conditioner juga disediakan (kalo sikat dan pasta gigi kayaknya ngga ya, agak lupa). Tapi mereka dikemas dalam bentuk botol besar (untuk isi ulang kayaknya), jadi emang bukan untuk dikoleksi tamu hotel.
Kalau baca di web, di sini juga ada free wi-fi, tapi berhubung saya nyewa pocket wi-fi selama di Jepang, akhirnya lebih sering connectnya ke pocket wi-fi yang cepeettt itu. Sebagian review sih mengeluhkan koneksi wi-finya ngga stabil.


Wiii tengkyuu infonya reess... Mungkin yg tempo jalan kaki 5 mnt itu pake standarnya org jepang yg jalannya buru2 itu yaa..
BalasHapusiyaaa kak put, kalo standar orang indonesia sih 5 menit kalo sprint sampe ngos-ngosan hehe
BalasHapus