Sudah beberapa waktu sejak terakhir saya menapakan kaki di Negeri Matahari Terbit, namun apa daya.. saya kembali ke Indonesia dengan perasaan macam remaja habis putus cinta. Gagal move on, euy! Otak saya mungkin tidak dapat mengingat setiap detail perjalanan yang saya alami, tapi tidak mungkin saya bisa melupakan perasaan gembira yang begitu membuncah ketika itu.
Salah satu pengalaman yang tak terlupakan untuk saya adalah menumpang kereta super cepat Jepang: Shinkansen!
Kereta sendiri adalah moda transportasi kesenangan saya dibandingkan dengan moda lainnya. Berkereta selalu memberikan kenangan unik selama perjalanan. Sudut lain dari sebuah kota, pedagang asongan yang berteriak dengan logat khas, kursi keras dengan kipas angin berdenging berusaha mensirkulasi udara pengap (catatan : pengalaman saya berkereta di Indonesia kebanyakan dengan kelas non-eksekutif). Karena itu, tentu saya tidak akan melewatkan kesempatan menaiki kereta legendaris di Jepang.
Kereta sendiri adalah moda transportasi kesenangan saya dibandingkan dengan moda lainnya. Berkereta selalu memberikan kenangan unik selama perjalanan. Sudut lain dari sebuah kota, pedagang asongan yang berteriak dengan logat khas, kursi keras dengan kipas angin berdenging berusaha mensirkulasi udara pengap (catatan : pengalaman saya berkereta di Indonesia kebanyakan dengan kelas non-eksekutif). Karena itu, tentu saya tidak akan melewatkan kesempatan menaiki kereta legendaris di Jepang.
Saya menggunakan kereta Shinkansen ini untuk perjalanan dari Tokyo ke Kyoto yang memakan jarak lebih dari 500 km. Jika hendak berkeliling banyak kota di Jepang, lebih baik sih membeli JR Pass, yaitu semacam kartu pass untuk menaiki Shinkansen dan moda transportasi lain di bawah grup perusahaan Japan Railways untuk rute-rute strategis di Jepang dalam jangka waktu tertentu. Meski jatuhnya memang lebih ekonomis, tapi tetap saja harga pass ini sudah senilai tiket AirAsia PP Malaysia-Jepang! Karena itu, akhirnya saya memilih memakai strategi mendarat di Tokyo, lalu pulang dari Osaka. Jadi, icip-icip Shinkansen-nya cukup sekali saat ke Kyoto (ga perlu balik lagi ke Tokyo). Ke Osaka-nya cukup naik kereta biasa yang murah meriah karena toh jaraknya tak jauh (Tokyo-Kyoto-Osaka ini satu rute ke arah Selatan).
Namun demikian, bagi saya satu tiket one way ini sama saja muahaalnya. Kalau di Indonesia mah 13,000 yen itu kira-kira udah dapet tiket PP Balikpapan- Jakarta (heavy breathe). Yah baiklah... untuk sementara ini, kita kesampingkan dahulu masalah saldo tabungan. Terkadang memang harus berani berkorban modal tak sedikit untuk mencari pengalaman berbeda (sampai Kyoto tinggal kerincingan aja di saku, hiks).
Tiket Shinkansen. Sumber : foto pribadi
Sehari sebelum berangkat, kita tes lapangan dulu ke Tokyo Station sebagai stasiun pemberangkatan Shinkansen. Setelah muter-muter stasiun yang guedeee itu, akhirnya ketemulah JR Ticket Office tempat kami membeli reserved seat ticket Shinkansen keberangkatan pukul tiga keesokan harinya. Meski dengan komunikasi apa adanya, pastikan bahwa kita memesan tiket sesuai jadwal yang diinginkan.
Oh iya, Shinkansen arah Kyoto/Osaka ini memiliki beberapa tipe; ada Nozomi, Hikari, dan lainnya. Kalau ngga salah sih perbedaannya hanya di jumlah stasiun yang disinggahi. Saya mendapat kereta tipe Nozomi yang paling cepat sampai di Kyoto karena lebih sedikit singgah dari Shinkansen yang lain (140 menit saja sodara-sodara). Ga sengaja sih ini milih Nozomi, karena sebenernya buat saya dan suami, yang penting jadwalnya cucok, ngga kemalaman sampai di Kyoto.
sumber : foto pribadi
Esok harinya, satu jam setengah sebelum keberangkatan, kami sudah standby di Tokyo Station (macam mau berangkat naik pesawat). Setelah makan siang di kedai ramen vegetarian terindikasi halal paling enak sejagat raya (direkomendasikan oleh teman saya yang bekerja dan tinggal di Jepang), barulah kami melipir ke peron yang telah ditentukan untuk menanti sang mega bintang Nozomi. Sesuai jadwal (atau malah lebih cepat dari jadwal), Nozomi pun tiba dengan elegannya.. wusshhh.. wuussshh.. mau foto moncongnya aja sampe blur.
Begitu masuk gerbongnya.. waahhh.. ini mah berasa di kelas bisnis pesawat (kayaknya doang sihh, soalnya belum pernah naik kelas bisnis pesawat hehe). Bersih wangi tanpa noda! Kursinya tipe reclining yang empuk dan nyaman, plus jarak kaki dengan kursi depannya juga legaaa sampe bisa selonjoran. Sudah begitu ada colokan pula, jadi bisa sambil mengisi baterai ponsel yang sudah di-abuse habis-habisan gegara kita tergantung banget sama google maps. Sayang tidak ada entertainment monitor di kursi depan juga tak ada box makanan yang dibagikan *mengingatan diri sendiri bahwa ini bukan di dalam pesawat*
Legaaa. Sumber : foto pribadi
Nozomi superexpress. Sumber : foto pribadi
Kereta pun akhirnya melaju, yuhuuu... meski berlalu dengan amat cepat, di dalam rasanya cukup normal. Stabil aja gitu, ngga ada efek goyang-goyang. Dari jendela, pemandangan di luar memang berkelebatan dengan cepat, tapi masih bisa dinikmati kok dengan mata telanjang (kalau difoto pakai kamera memang langsung blur total). Dan saya sukaaa sekali keindahan di sepanjang perjalanan ini.
Keluar dari kemegahan kota besar Jepang, yang tersaji di luar jendela adalah wilayah suburban yang ramai oleh pabrik dan pemukiman berupa perumahan dan flat-flat. Lalu rerimbunan hijau perbukitan, dan kemudian sawah serta perkebunan membentang luas teratur dengan perbukitan tetap hadir sebagai latar belakangnya. Berganti-gantian. Meski beberapa kali juga pemandangan di luar tersela oleh dinding-dinding gelap ketika Shinkansen memasuki terowongan-terowongan. Sekilas saya juga sempat menangkap pemandangan lautan di kejauhan.
Ah, rasanya memori ini langsung melayang pada suasana yang tergambar di komik Jepang yang saya sukai, atau adegan yang saya tonton di dorama. Bedanya, yang ini benar-benar terpampang empat dimensi di depan saya. Dan entah mungkin karena saat itu sedang musim gugur, dalam penglihatan saya warna pemandangan di luar terasa lebih sephia.. sendu dan penuh kerinduan (peluk suami). Aduh, leher saya sampai pegal-pegal lho karena tak henti-hentinya melongok ke luar jendela.
Dan tanpa terasa, janji waktu tempuh 140 menit pun terpenuhi sudah. Kereta melambatkan jalannya, pelan-pelan... untuk lalu menepi dengan anggun di Kyoto Station...
suami yang langsung terkantuk-kantuk ketika kereta berjalan. sumber : foto pribadi









