Jumat, 31 Juli 2015

Fast (but not) Furious with Shinkansen

Sudah beberapa waktu sejak terakhir saya menapakan kaki di Negeri Matahari Terbit, namun apa daya.. saya kembali ke Indonesia dengan perasaan macam remaja habis putus cinta. Gagal move on, euy! Otak saya mungkin tidak dapat mengingat setiap detail perjalanan yang saya alami, tapi tidak mungkin saya bisa melupakan perasaan gembira yang begitu membuncah ketika itu. 

Salah satu pengalaman yang tak terlupakan untuk saya adalah menumpang kereta super cepat Jepang: Shinkansen!

Kereta sendiri adalah  moda transportasi kesenangan saya dibandingkan dengan moda lainnya. Berkereta selalu memberikan kenangan unik selama perjalanan. Sudut lain dari sebuah kota, pedagang asongan yang berteriak dengan logat khas, kursi keras dengan kipas angin berdenging berusaha mensirkulasi udara pengap (catatan : pengalaman saya berkereta di Indonesia kebanyakan dengan kelas non-eksekutif). Karena itu, tentu saya tidak akan melewatkan kesempatan menaiki kereta legendaris di Jepang.



Saya menggunakan kereta Shinkansen ini untuk perjalanan dari Tokyo ke Kyoto yang memakan jarak lebih dari 500 km. Jika hendak berkeliling banyak kota di Jepang, lebih baik sih membeli JR Pass, yaitu semacam kartu pass untuk menaiki Shinkansen dan moda transportasi lain di bawah grup perusahaan Japan Railways untuk rute-rute strategis di Jepang dalam jangka waktu tertentu. Meski jatuhnya memang lebih ekonomis, tapi tetap saja harga pass ini sudah senilai tiket AirAsia PP Malaysia-Jepang! Karena itu, akhirnya saya memilih memakai strategi mendarat di Tokyo, lalu pulang dari Osaka. Jadi, icip-icip Shinkansen-nya cukup sekali saat ke Kyoto (ga perlu balik lagi ke Tokyo). Ke Osaka-nya cukup naik kereta biasa yang murah meriah karena toh jaraknya tak jauh (Tokyo-Kyoto-Osaka ini satu rute ke arah Selatan). 

Namun demikian,  bagi saya satu tiket one way ini sama saja muahaalnya. Kalau di Indonesia mah 13,000 yen itu kira-kira udah dapet tiket PP Balikpapan- Jakarta  (heavy breathe). Yah baiklah... untuk sementara ini, kita kesampingkan dahulu masalah saldo tabungan. Terkadang memang harus berani berkorban modal tak sedikit untuk mencari pengalaman berbeda (sampai Kyoto tinggal kerincingan aja di saku, hiks). 

Tiket Shinkansen. Sumber : foto pribadi

Sehari sebelum berangkat, kita tes lapangan dulu ke Tokyo Station sebagai stasiun pemberangkatan Shinkansen. Setelah muter-muter stasiun yang guedeee itu, akhirnya ketemulah JR Ticket Office tempat kami membeli reserved seat ticket Shinkansen keberangkatan pukul tiga keesokan harinya. Meski dengan komunikasi apa adanya, pastikan bahwa kita memesan tiket sesuai jadwal yang diinginkan. 

Oh iya, Shinkansen arah Kyoto/Osaka ini memiliki beberapa tipe; ada Nozomi, Hikari, dan lainnya. Kalau ngga salah sih perbedaannya hanya di jumlah stasiun yang disinggahi. Saya mendapat kereta tipe Nozomi yang paling cepat sampai di Kyoto karena lebih sedikit singgah dari Shinkansen yang lain (140 menit saja sodara-sodara). Ga sengaja sih ini milih Nozomi, karena sebenernya buat saya dan suami, yang penting jadwalnya cucok, ngga kemalaman sampai di Kyoto.

sumber : foto pribadi


Esok harinya, satu jam setengah sebelum keberangkatan, kami sudah standby di Tokyo Station (macam mau berangkat naik pesawat).  Setelah makan siang di kedai ramen vegetarian terindikasi halal paling enak sejagat raya (direkomendasikan oleh teman saya yang bekerja dan tinggal di Jepang), barulah kami melipir ke peron yang telah ditentukan untuk menanti sang mega bintang Nozomi. Sesuai jadwal (atau malah lebih cepat dari jadwal), Nozomi pun tiba dengan elegannya.. wusshhh.. wuussshh.. mau foto moncongnya aja sampe blur.

Begitu masuk gerbongnya.. waahhh.. ini mah berasa di kelas bisnis pesawat (kayaknya doang sihh, soalnya belum pernah naik kelas bisnis pesawat hehe). Bersih wangi tanpa noda! Kursinya tipe reclining yang empuk dan nyaman, plus jarak kaki dengan kursi depannya juga legaaa sampe bisa selonjoran. Sudah begitu ada colokan pula, jadi bisa sambil mengisi baterai ponsel yang sudah di-abuse habis-habisan gegara kita tergantung banget sama google maps. Sayang tidak ada entertainment monitor di kursi depan juga tak ada box makanan yang dibagikan *mengingatan diri sendiri bahwa ini bukan di dalam pesawat*


Legaaa. Sumber : foto pribadi

Nozomi superexpress. Sumber : foto pribadi

Kereta pun akhirnya melaju, yuhuuu... meski berlalu dengan amat cepat, di dalam rasanya cukup normal. Stabil aja gitu, ngga ada efek goyang-goyang. Dari jendela, pemandangan di luar memang berkelebatan dengan cepat, tapi masih bisa dinikmati kok dengan mata telanjang (kalau difoto pakai kamera memang langsung blur total). Dan saya sukaaa sekali keindahan di sepanjang perjalanan ini.

Keluar dari kemegahan kota besar Jepang, yang tersaji di luar jendela adalah wilayah suburban yang ramai oleh pabrik dan pemukiman berupa perumahan dan flat-flat. Lalu rerimbunan hijau perbukitan, dan kemudian sawah serta perkebunan membentang luas teratur dengan perbukitan tetap hadir sebagai latar belakangnya. Berganti-gantian. Meski beberapa kali juga pemandangan di luar tersela oleh dinding-dinding gelap ketika Shinkansen memasuki terowongan-terowongan. Sekilas saya juga sempat menangkap pemandangan lautan di kejauhan. 

Ah, rasanya memori ini langsung melayang pada suasana yang tergambar di komik Jepang yang saya sukai, atau adegan yang saya tonton di dorama. Bedanya, yang ini benar-benar terpampang empat dimensi di depan saya. Dan entah mungkin karena saat itu sedang musim gugur, dalam penglihatan saya warna pemandangan di luar terasa lebih sephia.. sendu dan penuh kerinduan (peluk suami). Aduh, leher saya sampai pegal-pegal lho karena tak henti-hentinya melongok ke luar jendela. 

Dan tanpa terasa, janji waktu tempuh 140 menit pun terpenuhi sudah. Kereta melambatkan jalannya, pelan-pelan... untuk lalu menepi dengan anggun di Kyoto Station...  


suami yang langsung terkantuk-kantuk ketika kereta berjalan. sumber : foto pribadi

Selasa, 28 Juli 2015

Transit a la Anak Mall di KLIA 2

Kemarin, ngga sengaja saya membaca berita yang cukup mengagetkan tentang kondisi Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2) yang baru saja dibuka untuk publik tengah tahun 2014 lalu. Dengan judul "KLIA 2 is now sinking", diberitakan bahwa terdapat retakan-retakan di runway bandara dan jalur landasan ber-aspal tersebut tergenang oleh air sehingga seperti membentuk kolam besar.

Tidak menyangka juga sih kalau Malaysia pun memiliki persoalan yang juga sering terdengar di Indonesia : infrastruktur yang baru dibangun dengan dana super besar (terkadang sampai over budget) namun tak lama sudah memperlihatkan bobrok-bobroknya. Yah, secara landasan pesawat itu ibarat jantungnya suatu airport, semoga segera dibereskan total deh. Apalagi KLIA 2, yang merupakan markas besar low cost airlines AirAsia, adalah titik hub jutaan wisatawan jelata bermodal tiket promo yang ingin menapak dunia (kayak saya). Kita kan maunya hemat dan aman dari segala aspek yaah.

Di samping adanya masalah di atas, saya sebenarnya cukup menyukai bandara yang satu ini. Terakhir landing di sana adalah pada awal tahun 2015 lalu di mana saya memilih transit di KLIA 2 dari Medan sebelum pulang ke Balikpapan keesokan harinya. Asik yah, perginya antar provinsi dalam negeri (Medan-Balikpapan), tapi transitnya ke luar negeri segala. Apa boleh buat, awal tahun harga tiket memang terbang melayang dan yang paling murah justru mampir dulu ke KL pake AirAsia. Bahkan udah dihitung dengan ongkos nginep segala, tetap lebih murah lewat KL loh. Anyway, waktu landing dan take off terakhir di sana sih landasannya kayaknya mulus-mulus aja, belum ada gangguan.

Karena waktunya sempit (nyampe di KL siang menjelang sore dan jadwal ke Balikpapan jam 8 besok paginya), akhirnya kita mutusin untuk stay aja di sekitar bandara. Andai kita nyampe KL tengah malem sih mungkin kita akan milih nginep aja di kursi-kursi Texas Chicken kayak pas pulang dari Jepang dulu, tapi karena masih siang dan kita mau hidup agak enak, akhirnya kita book kamar di Tune Hotel yang berlokasi di sekitar bandara (tinggal ngesot!). Dan ternyata, overnight transit di KLIA 2 menyenangkan!

Penyebabnya adalah tidak lain karena fasilitas airport yang udah kayak mall. Banyak toko-toko besar buka lapak di mari, dari segala macam restoran (western fast food chain, jepang, peranakan, melayu, etc), fashion (Vincci, Charles & Keith --> inceran turis indonesia banget ini), toko buku, groceries, sampe tempat pijat! Buat anak Balikpapan sih, mall kayak gini udah lebih dari cukup. Apalagi saya juga bukan tipe yang tukang belanja kan, jadi segitu juga udah bikin betah.

Yang saya sendiri lakukan selama transit a la anak mall ini adalah :

1. PIJET! Ini salah satu hobi akut saya sejak masih kecil, apalagi kemarin abis dari kawinan tuh rasanya pegel benar badan ini. Selain itu, tempat saya pijet ini, Thai Odyssey, katanya bener-bener recommended kalo mao nyoba Thai Massage. Therapistnya juga konon semuanya impor dari Thailand. Okelah saya coba yang 30 menit, meski harus meringis karena ongkos pijet sebentar gitu aja kurang lebih 200 rebu kalo dirupiahkan (kalo di Thailand-nya sendiri mungkin segitu udah dapet plussss banget kali yah :p). Tapi emang enyaakkk sihh.. mbak therapist-nya beneran orang Thailand (agak susah ngomong bahasa enggrisnya). Badan saya ditarik-tarik, diputer, diplintir.. awww.. awww.. tapi enak kok. Meski level keenakannya ga beda jauh dari tempat saya biasa pijet di Nakamura Balikpapan sih (mungkin faktor harga kemahalan juga mempengaruhi level keenakan).





2. Makan, Nah ini juga sih yang saya demen. Apalagi pas keliling-keliling, ketemulah saya dengan restoran Ramenten, restoran masakan Jepang asal Singapur yang telah bersertifikat HALAL (ini harus di-highlight!). Karena langka banget restoran ramen bersertifikat halal, langsunglah saya semangat memesan ramen dan takoyaki untuk makan siang. Lumayan aja sih memang rasanya, masih enakan ramen halal di Kansai Airport (yaeyalah). Oh iya, di sini makan berdua habis hampir 400 rebu (mewek di pojokan). Untuk makan malamnya sendiri, kita pilih di Nanny's Pavillon sebagai bentuk dukungan pada produk Indonesia wahaha.

3. Belanja cemilan di Jaya Grocer. Asik bener memang ada supermarket gede di bandara. Langsunglah kita belanja berbagai cemilan cantik beraneka rupa dan buah-buahan untuk bekal di hotel.




4. Sightseeing! Meski ngga belanja (kekep dompet), cukup menyenangkan untuk sekedar window shopping di "mall" yang nyaman dengan banyak toko-toko yang wallet-catching ini.

Jadi kesimpulannya, KLIA 2 ini tempat yang oke banget untuk transit. Selain Tune Hotel milik AirAsia, di lantai bawah bandara juga ada Capsule Hotel buat yang mau bobo-bobo kilat di atas kasur sebelum terbang kembali. Tempatnya juga aman, even kalo mau overnight di emperan-emperannya juga ga ada yang gangguin kok. Dan beberapa restoran tetap buka 24 jam buat yang mau overnight di kursi busa dengan sandaran meja (modal dikit pesen paket paling murah-lah).

Makanya, supaya makin oke, semoga masalah landasan ini cepet beres yah. Tapi kalo belom ada warning khusus sih harusnya masih aman aja mendarat di sana.

Sekiaann~~



Senin, 27 Juli 2015

Hotel MyStays Asakusa - Review

Selain berburu tiket dan tentu saja jalan-jalannya, salah satu hal yang paling saya sukai dari traveling adalah : berburu penginapan! Saya benar-benar menikmati moment di mana saya harus mengubek-ubek review penginapan di situs seperti booking.com, agoda, dan tripadvisor, lalu membuat perbandingan fasilitas, lokasi dan harga, serta pelayanan. Bisa bikin galau berminggu-minggu, tapi menyenangkan!

Waktu masih sexy, free, and single sih saya ga masalah nyari hostel tipe dormitory yang sekamar beramai-ramai itu (tapi tetep sih meski 'hanya' hostel, saya tetap akan melakukan check and recheck yang mendalam sebelum memutuskan). 
Tapi, karena setelah menikah travelingnya selalu berdua dengan suami, saya sekarang lebih memperhatikan faktor-faktor berikut:
  1. Privasi. Iya dong, kalo sekamarnya rame-rame di mixed dormitory kan jadi ngga bisa pacaran sama suami. Jadi harus banget cari private room.
  2. Kamar mandi di dalam. Ini untuk faktor kenyamanan saya sih, secara saya berjilbab dan rasanya malas kalau dikit-dikit mau ke kamar mandi harus pake baju panjang dan jilbab dulu. Apalagi kalau shared bathroom-nya ngga dipisah untuk cewek dan cowok. BIG NO.
  3. Lokasi. Wajib cari yang dekat dengan fasilitas transportasi umum. Ga harus yang tinggal guling nyampe sih.. ga masalah kalau harus jalan kaki dikit, sekalian olahraga juga toh. 
  4. Bersih dan rapih. Ini biasanya ngintip di tripadvisor karena reviewer-nya kadang meng-upload foto kamar aslinya. Kalau lihat di situs booking hotel sih biasanya gambarnya udah diedit sedemikian rupa biar keren. 
  5. Harga. Anyway, meski banyak mau, saya bukan maniak hotel berbintang kok (mahal bookk). Saya akan mencari penginapan dengan harga yang sesuai budget dan tetap memenuhi faktor-faktor di atas. Misalnya di Jepang, budget saya satu juta per malam untuk satu kamar berdua. Ngga beda jauh sebenarnya dari menginap di hostel yang strategis, karena per tempat tidur (per kepala) biasa dihargai sekitar 300-500rb per malam. Kalau di tempat yang rata-rata lebih murah harga hotelnya, ya dikurangin juga budgetnya. 
Waktu saya ke Tokyo tahun lalu, saya memutuskan untuk menginap di wilayah Sumida yang berada di sekitar spot wisata Asakusa. Dari research, kawasan Asakusa ini cukup strategis sih kalau mau kemana-mana, selain itu rata-rata tarif hotelnya juga relatif lebih murah dibanding wilayah lain seperti Shibuya.  Anyway, hotel yang saya inapi bernama MyStays Asakusa, sebuah business hotel chain yang memiliki cabang di mana-mana.

Saya book via booking.com dengan harga kurang lebih per malamnya Rp 700,000 (November 2014) untuk kamar standar. Di situs disebutnya cuma 5 menit jalan kaki dari stasiun subway Kuramae, kalau kenyataannya sih 15 menit jalan kaki santai. Tapi berhubung udaranya dingin sejuk, plus untuk ke sananya kita harus menyebrangi Sumida river yang tenang dan super bersih dengan pemandangan Tokyo Sky Tree di kejauhan, 15 menit juga terasa cepat saja. Agak repotnya sih emang kalo pas bawa-bawa koper, lumayan rempong naik turun tangga stasiun-nya. 


ini penampakan hotelnya, sumber : booking.com

Penginapan di Jepang rata-rata memiliki jam check-in start di jam 3 sore dan check-out di pukul 10 pagi. Kalau tiba lebih awal seperti kami, kita boleh-boleh saja titip tas dulu di resepsionis lalu cabut buat jalan-jalan. Resepsionisnya cukup bisa berbahasa Inggris, plus kita bisa minta tourism map Asakusa juga ke mereka. 

Seperti banyak cerita mengenai kamar hotel di Jepang, yupss.. kamarnya mungiilll sekali :) Setelah meletakan dua koper, rasanya sudah nyaris tidak ada space lagi.

sumber : booking.com

Noh kan, kecil banget kamar dan double bed-nya. Untuk saya dan suami sih sebenarnya nyaman-nyaman aja, secara body kita juga mungil (oh yeah), tapi ga kebayang kalo ada pasangan bule yang nginep di mari :))

Biar demikian, seluruh persyaratan saya sudah terpenuhi oleh hotel ini, malah sesungguhnya lebih dari yang diharapkan. Selain AC/pemanas dan TV, di kamar mungil ini disediakan ketel air listrik, microwave, kulkas kecil, semacam kompor pemanas, hair dryer bahkan jubah tidur dan selop! Yang lebih asik lagi, meski kamar mandinya mungil dan berpenampilan jadul, tetep ada bathtub-nya dong (plus toilet penuh tombol a la Jepang tentunya). Bukan bathtub yang kita bisa sampe selonjoran sih.. maksimal kita cuma bisa duduk aja di bathtub ini hahaha. Tapi karena bathtubnya dalam, jadi kalo diisi air sih bisa tenggelem sampe sekitar leher. Dari pengalaman saya, berendam air panas sebelum tidur malem itu okeee banget setelah seharian jalan berkilo-kilo. Besok paginya segerr, ga pegel-pegel. 


sumber : foto pribadi

Oh ya, toiletries seperti sabun, shampo dan conditioner juga disediakan (kalo sikat dan pasta gigi kayaknya ngga ya, agak lupa). Tapi mereka dikemas dalam bentuk botol besar (untuk isi ulang kayaknya), jadi emang bukan untuk dikoleksi tamu hotel. 

Kalau baca di web, di sini juga ada free wi-fi, tapi berhubung saya nyewa pocket wi-fi selama di Jepang, akhirnya lebih sering connectnya ke pocket wi-fi yang cepeettt itu. Sebagian review sih mengeluhkan koneksi wi-finya ngga stabil.  

Overall, saya puassss dengan hotel kecil ini. Highly recommended buat turis yang memiliki persyaratan yang sama dengan saya :)



other angle shots, sumber : foto pribadi

Minggu, 26 Juli 2015

Episode Baru

Ketika saya memasuki usia 26 tahun bulan Juni lalu, ternyata saya juga sekaligus memasuki fase hidup yang benar-benar baru. 

Pertama, tunai sudah tugas saya berkarir di bidang service contracts yang penuh lika-liku namun cukup menyenangkan. Bukan suatu hal yang mudah sebenarnya untuk saya. Di samping masalah pendapatan bulanan yang hilang (hiks!), yang terberat adalah justru meninggalkan lingkungan kerja yang sudah begitu nyaman dengan kolega yang seperti keluarga sendiri. Saya bukan orang yang begitu pandai bergaul, jadi menemukan lingkungan yang 'klik' buat saya adalah prioritas nomor satu dalam berkarir. Namun, apa boleh buat, pilihan telah ditentukan. Waktu itu saya sudah punya rencana besar tentang apa yang ingin saya fokuskan setelah off berkarir, tapi.... 

Tak disangka, tepat di hari farewell untuk saya, yaitu di hari Rabu tanggal 27 Mei 2015, rencana besar saya ternyata sudah menjadi kenyataan! 

Saya mendapati bahwa Allah mengabulkan doa serta usaha saya dan suami selama beberapa waktu ini... dengan adanya dua garis merah dalam testpack saya! Jujur, saat itu saya dan suami daripada disebut bahagia, lebih tepat dikatakan amazed dan cenderung tidak yakin. Tidak ada adegan tangis-menangis penuh keharuan, yang ada malah takut hasil testpack-nya salah (saking ga pernahnya dapet dua garis hehe).

Mulai agak yakin sih setelah melakukan testpack kedua yang tetap positif.. tapi tetap saja, karena saya sudah banyak berkecimpung di dunia per-forum-an ibu hamil, saya tahu bahwa dua garis bukan berarti 100% hamil dengan 'aman' (yep, saya takut terjadi Blighted Ovum, hamil di luar kandungan, dan kasus semacamnya). Makanya saya ga berani dulu woro-woro kalau belum yakin (paling cuma cerita ke orangtua dan beberapa teman terdekat untuk minta doa).

Apalagi saat ke dokter kandungan pertamakali, yang terlihat baru penebalan rahim saja tanpa terlihat kantong apalagi janinnya. Buat saya, saya baru akan yakin hamil kalau sudah ada kantong dan janin di dalamnya.. yang mana baru saya dapat pastikan dua minggu kemudian (hiks, ini kerasa lama banget deg-degannya).

Satu kata, Alhamdulillah. Mungkin itu salah satu momen ter-amazing dalam hidup saya ya.. mengetahui bahwa ada janin mungil yang sedang tumbuh di rahim saya. Sungguh Allah memang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Di saat saya kehilangan rejeki yang satu, Allah menggantikannya dengan rejeki yang lebih baik.. di waktu yang passsss benar. 

Tapi tetep sih, walau sudah pasti hamil, saya tidak ingin terlalu berlebihan memberitahukan tentang kehamilan saya ke lingkungan sekitar. Saya bahagia, amat sangat bahagia. Tapi saya tahu bagaimana rasanya menanti kehamilan dan merasa "ugh" tiap ada teman yang begitu hebohnya menceritakan setiap momen kehamilan mereka di social media, lengkap dengan hasil testpack dan foto usg (yang sebenernya ngga salah juga sih, itu kan hak mereka). Saya hanya tidak mau orang lain merasakan perasaan "ugh" yang saya rasakan. Tapi bolehlah ya saya lebih berbagi di blog ini hehe.. insya Allah niatnya untuk berbagi yang bermanfaat saja :)

Demikianlah segelintir cerita dalam episode baru dalam kehidupan saya. Saat ini saya memasuki masa dua bulan off bekerja dan 14 minggu masa kehamilan yang menakjubkan. Mohon doanya ya semoga semua baik-baik saja. Dan saya mau belajar rutin menulis ah (selain menggambar) supaya ndak bosen di rumah :)